DPR Minta Kereta Api Genjot Inovasi Angkutan Barang

0
1392
Ilustrasi, Kereta Api tengah melintas - dok.Istimewa

Jakarta, Mobilitas – Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah menyepakati alokasi anggaran Kementerian Perhubungan Tahun Anggaran (TA) 2022 senilai Rp 32,93 triliu, dan Rp 6,72 triliun di antaranya dialokasikan untuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian. Dengan anggaran sebesar itu, DPR meminta agar Ditjen ini mampu meningkatkan kinerja melalui inovasi baru dalam angkutan, terutama barang.

Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (23/12/2021) menyebut selama ini pendapatan PT Kereta Api Indonesia itu paling banyak dari angkutan penumpang atau orang. Sementara, sejak pandemi Covid-19 pendapatan dari angkutan penumpang ini menurun.

“Pada sisi lain, pandemi telah memberikan pembelajaran kepada kita bahwa angkutan logistik atau barang merupakan sektor bisnis yang tahan dari guncangan, khususnya untuk barang-barang konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, kita berharap inovasi di sektor angkutan barang ini terus diperkuat dengan terobosan baru yang membawa manfaat bagi pendapatan perseroan maupun perekonomia nasional,” papar dia.

Calon penumpang kereta api jarak jauh di Stasiun Gambir – dok.PT KAI

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Mobilitas, memperkuat pernyataan Lasarus. Sepanjang tahun 2019 jumlah penumpang kereta api di Tanah Air mencapai 413 juta orang, namun di tahun 2020 merosot tajam hingga hanya sebanyak 186 juta orang.

Ternyata tren penurunan masih berlangsung hingga tahun ini. Sampai dengan bulan September atau sepanjang sembilan bulan pertama 2021, jumlah penumpang masih merosot, dikarenakan masih adanya dampak pandemi Covid-19.

“Selama bulan September (jumlah penumpang) mencapai 9,57 juta orang, naik 46,83% dibanding Agustus yang sebanyak 6,52 juta orang. Tetapi secara year on year dibanding September 2020 masih turun 16,30%, sehingga secara kumulatif (Januari – September) masih turun 29,39% dibanding periode sama tahun lalu,” ujar Kepala BPS, Margo Yuwono, di Jakarta, belum lama ini.

Ilustrasi, kereta api – dok.PT KAI Daop 8

Paralel dengan turunnya jumlah penumpang tersebut, maka pendapatan yang diraup pun menciut. Jika di tahun 2019 masih sebesar Rp 26,25 triliun, di tahun 2020 hanya Rp 18,07 triliun alias merosot 31,16%.

Penurunan berlanjut
Penurunan diperkirakan masih akan terjadi pada 2021 ini, mengingat jumlah penumpang juga masih menurun. “Oleh karena itu, kami mendorong upaya untuk melakukan optimalisasi aset dan pengoperasian KA barang. Harapnnya ada pendapatan ekstra untuk perusahaan dan mengompensasi penurunan pendapatan,” kata Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo, saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (23/12/2021).

Terlebih, pada lini bisnis angkutan barang ini, PT KAI mencatatkan kenaikan meski di tengah kondisi pandemi. Sebanyak 45,1 juta ton barang diangkut selama tahun 2020, atau 10% melebihi target yang ditetapkan semula, yang sebanyak 40,9 juta ton barang

Sebelumnya, dalam paparannya di Jakarta, Rabu (22/12/2021) Direktur Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, Zulfikri komitmen DJKA, untuk menyelesaikan proyek-proyek pembangunan dan peningkatan jalur kereta api yang sudah masuk ke dalam Outlook Pembangunan Perkeretaapian 2022.

Kereta api angkutan barang – dok.PT KAI

“Di antara program pembangunan prasarana yang akan kami laksanakan di tahun 2022 itu adalah elektrifikasi jalur KA lintas Solo Balapan – Solo Jebres yang sejauh 3,5 kilometer, double track lintas Bogor-Sukabumi sejauh 26,8 kiloometer dan double track Kiaracondong – Cicalengka taahap satu dan dua sejauh 22,17 kilometer,” ujar Zulfikri.

Selain itu ada pembangunan jalur ganda KA Mojokerto-Sepanjang sejauh 33 kilometer, jalur KA Maros-Barru sejauh 59,6 kilometer. Lalu proyek pembangunan Engineering Service Jakarta MRT East-West Project fase pertama. (Jap/Fan/Ara)