Jurus Tokcer Thailand Kuasai Pasar Mobil Listrik ASEAN

0
1104
Ilustrasi, mobil listrik di Thailand - dok.Lowyat.NET

Bangkok, Mobilitas – Pemerintah Thailand sejak beberapa tahun lalu telah menetapkan target untuk menjadi pusat produksi mobil ramah lingkungan dengan energi terbarukan – mulai dari hybrid, plug-in hybrid, hingga mobil listrik baterai (BEV) – di kawasan regional Asia Tenggara (ASEAN). Negeri yang juga biasa disebut Siam itu bahkan menetapkan tujuan, pada tahun 2030 nanti kendaraan listrik sudah menyumbang 30% dari total produksi mobil.

Federasi Industri Thailand (FTI) belum lama ini menyatakan, dari total kapasitas produksi saat ini yang sebanyak 2,4 juta unit, telah terpakai 80% – 90%. Pemakaian kapasitas produksi hampir 100% itu terjadi, karena hasilnya sebagian besar diekspor ke berbagai negara.

“Seiring dengan perubahan dunia yang mengarah ke mobil ramah lingkungan untuk mewujudkan lingkungan dunia yang semakin sedikit emisi karbon, Thailand harus menstransformasikan diri sebagai pusat produksikendaraan yang lebih bersih itu. Populasi kendaraan seperti itu – khususnya mobil listrik – harus terus diperbesar di dalam negeri. Sehingga, jika telah tercipta ekosistemnya, produksi akan semakin banyak,” bunyi keterangan FTI yang dilansir Asia Business Channel dan The National, belum lama ini.

Nissan Kicks e-Power, salah satu mobil yang diproduksi di Thailand dengan tujuan penjualan domestik maupun ekspor – dok.Bangkok Post

Untuk mewujudkan penciptaan ekosistem, khususnya menggenjot populasi kendaraan listrik, Kementerian Keuangan Negeri Gajah Putih itu telah menyetujui pemberian subsidi harga mobil setrum. Seperti dilaporkan Nikkei dan Reuters, Selasa (15/2/2022), kabinet Thailand telah menyetujui usulan kementerian keuangan untuk memberikan subsidi 70.000 baht dan 150.000 baht kepada pembeli mobil listrik.

“Besaran subsidi berada pada rentang tersebut tergantung pada model dan kapasitas baterai, Selain itu, pajak cukai untuk kendaraan ini juga akan dipotong menjadi 2%. Bea masuk (untuk mobil listrik impor) akan diturunkan antara 20% dan 40%. Bahkan bisa setinggi 80%, meskipun untuk mobil listrik dari Cina telah ada perjanjian perdagangan antar dua negara (Cina dan Thailand) untuk menghilangkan tarif,” papar pernyataan kementerian.

Sementara, untuk mobil-mobil ramah lingkungan (hybrid dan plug-in hybrid) buatan pabrikan Jepang yang selama ini dikenai bea 20%, akan dihapuskan. Meski untuk penghapusan tersebut, mobil yang bersangkutan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah.

Mobil listrik buatan merek milik Great Wall Motor, Ora Good Cat – dok.Alexwa.com

Tetapi, yang pasti, saat ini mobil-mobil listrik buatan pabrikan Cina harganya telah terpangkas di Thailand. Mobil listrik buatan SAIC Motor dan Great Wall Motor misalnya, kini dijual dengan banderol 1 juta baht. Padahal, semestinya mobil itu berharga 1,5 juta baht.

Keduanya juga telah membangun pabrik di negara tersebut. Mereka telah menggandeng mitra lokal di negeri untuk memproduuksi mobil untuk pasar lokal dan untuk tujuan ekspor.

Langkah itu klop dengan kebijak pemerintah. Sebab pemerintah Thailand telah mewanti-wanti agar pabrikan yang menikmati fasilitas pajak penjualan maupun impor ini, harus memproduksi mobil setrum mereka di pabrik lokal pada tahun 2024 nanti. Dengan begitu, negeri ini akan menjadi basis produksi mobil setrum terbesar di kawasan. (Din./Aa)