Kasus Tronton Rem Blong Balikpapan, Kompetensi Sopir Dipertanyakan

0
1151
Truk tronton yang diduga rem blong yang menabrak sejumlah kendaraan roda empat dan dua di Balikpapan, Kalimantan Timur - dok.Istimewa

Jakarta, Mobilitas – Untuk kesekian kalinya truk berat jenis tronton mengalami kecelakaan – yang diduga mengalami rem blong – kembali terjadi. Kali ini, Jumat (21/1/2022) pukul 05.00 pagi di wilayah Muara Rapak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, sebuah truk tronton ‘ngeblong’ sehingga menabrak beberapa kendaraan bermotor roda empat maupun dua dan mengakibatkan sejumlah korban jiwa.

Menurut Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Irjen Pol.Dedi Prasetyo, sopir truk tronton yang celaka itu – Muhamad Ali (47 tahun) – mengaku telah beberapa kali menginjak pedal rem truk. Namun, dia juga menyebut pompa rem angin dari truk itu tak bekerja meski telah berkali diinjaknya.

“Dari hasil pemeriksaan petugas kepolisian, sopir truk yang mengalami kecelakaan tersebut mengaku pompa rem angin truk yang dikemudikannya tidak berfungsi walaupun telah beberapa kali dia melakukan pengereman,” papar Dedi mengutip keterangan sopir tersebut.

Ilustrasi, truk yang mengalami kecelakaan parah di jalan tol – dok.Istimewa

Pengamat transportasi yang juga Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyebut, fakta tersebut membuktikan masih banyaknya human error sebagai penyebab kecelakaan.

Human error bukan hanya seseorang sengaja bertindak ceroboh, tetapi juga karena ketidakpahaman terhadap fungsi-fungsi fitur keamanan kendaraan. Dalam hal ini sistem dan cara kerja rem truk,” kata dia saat dihubungi Mobilitas dari Jakarta, Jumat (21/1/2022).

Artinya, lanjut pria yang juga pengajar Fakultas Teknik Unika Soegijapranata itu, kompotensi banyak pengemudi yang masih kurang. Oleh karena itu, tentu menjadi tanggung jawab perusahaan yang memperkejakan sopir serta agen pemegang truk yang digunakan oleh perusahaan tersebut untuk memberikan pelatihan secara terus menerus dan berkesinambungan.

“Begitu pula asosiasi perusahaan truk harus terus memberikan sopir truk, karena mungkin traning soal safety driving truk itu tidak sebanyak kendaraan penumpang. Ini fakta yang kami temui di lapangan berdasar pengakun sopir-sopir truk,” kata Djoko.

Mengemudikan truk – dok.Chemeketa Community

Pernyataan senada diungkap Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan. Menurut dia, dari data riset KNKT dari sejumlah kejadian kecelakaan truk, 20% diakibatkan malfungsi pada sistem pengereman.

“Dan malfungsi itu terjadi, karena kurangnya pemahaman, sehingga cara kerja sopir dalam pengereman salah. Ini terjadi karena gap antara kampas rem dan tromol di perangkat pengereman itu terlalu besar. Karena gap yang lebar itu, maka seringkali sopir merasa rem truknya enggak pakem. Sehingga, mereka sering menginjak pedal rem, bahkan berulang-ulang atau istilahnya mengocok rem,” papar dia saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Jumat (21/1/2022).

Karena pedal rem sering diinjak, maka komponen pada sistem pengereman itu suhunya memanas dan menjadikan angin di tangki udara tekor. Pedal rem pun mengeras dan rem menjadi blong.

Ilustrasi, truk di jalan tol – dok.Istimewa

Oleh karena itu, gap antara kampas rem perlu disetel ulang atau diganti dengan yang baru yang memenuhi ukuran yang ideal. Gap antara kampas dengan tromol yang ideal adalah 0,3 milimeter (mm) hingga 0,6 mm. (Fan/Tam/Aa)