Persaingan Kian Ketat, Penjualan Oli ECSTAR Justeru Mencuat

0
1247
Minyak pwlumas oli asli Suzuki, ECSTAR - dok.Istimewa

Jakarta, Mobilitas – Persaingan bisnis minyak pelumas (oli) khususnya di segmen oli untuk kendaraan bermotor – mulai dari kendaraan roda dua,mobil, bus, truk berat, hingga kapal – di Indonesia semakin ketat. Tak hanya karena jumlah pemain di pasar yang terus bertambah, tetapi juga karena tuntutan konsumen yang semakin tinggi.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam, saat ini meski terdapat 44 perusahaan produsen pelumas di Indonesia, namun antara kebutuhan dengan pasokan produk tak seimbang.

“Total produksi minyak pelumas (baik untuk otomotif maupun industri atau mesin pabrik) sekitar 908.360 kilo liter per tahun yang terdiri dari pelumas otomotif sebesar 781.189 kilo liter pert tahun dan pelumas industri 127.170 kilo liter per tahun. Padahal, kebutuhan nasional itu mencapai 1,2 juta kiloliter per tahun, dan terus berkembang,” papar dia saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, belum lama ini.

Perawatan mobil dengan cara rutin mengganti oli mesin – dok.RAC

Pertambahan permintaan terus terjadi karena penjualan kendaraan bermotor – baik roda dua, mobil, hingga truk berat – juga terus bertambah. Belum lagi kendaraan yang sudah ada juga membutuhkan perawatan, khususnya penggantian oli.

Akibat kesenjangan antara pasokan dari industri dalam negeri dengan kebutuhan pasar itu telah memunculkan celah hadirnya oli palsu dan impor secara ilegal. Padahal, oli dengan kategori semacam itu kualitasnya belum tentua atau malah tidak terjamin.

“Pada sisi lain, konsumen sendiri juga semakin kritis. Dalam konteks inilah, maka sejak beberapa waktu lalu, pemerintah memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI), termasuk untuk produk pelumas. Sejak berlakunya SNI, persaingan semakin fair dan berkualitas, sehingga masyarakat diuntungkan karena akan mendapatkan produk yang berkualitas,” papar Khayam.

Ilustrasi, pentingnya fungsi oli bagi mesin kendaraan – dok.Autocar

Konsumen makin kritis
Pernyataan serupa ditegaskan Kepala Riset Eternity Marketing Research Specalist (EMARS), Eko Wahyu Utomo. Menurut dia tingkat kekritisan masyarakat ditambah “adu kecanggihan teknologi” antar pemain di industri pelumas ini, menuntut industri untuk memberikan kualitas terbaik ke produknya.

“Saat ini feedback dari sebuah produk dari masyarakat, yang istilah zaman sekarang disebut sebagai review produk yang kemudian diunggah ke akun media sosial mereka, bisa berlangsung begitu cepat. Sehingga, jika satu produsen hanya menyuguhkan prodyk dengan kualitas yang standar saja, ya akan lewat, tertinggal di persaingan. Apalagi, kalau kualitasnya abal-abal, bisa habis di-bully dan dicaci masyarakat. Sehingga pabrikan pun bisa tinggal nama doang, alias kolaps,” papar Eko saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (8/11/2021).

Dengan fakta seperti itu, maka tantangan industri pelumas di Tanah Air bukan hanya harus bersaing dengan sesama produsen dengan adu kecanggihan teknologi, layanan penjualan, serta ketepatan delivery (baik dalam hal ketepatan jumlah, waktu, dan tempat). Namun, tantangan persaingan juga harus menghadapi masyarakat yang semakin kritis karena melek teknologi.

Pertambahan jumlah kendaraan baru dan perawatan kendaraan yang sudah merupakan pasar bisnis oli yang sangat potensial – dok.Air Quality News

“Kalau dulu industri itu head to head dengan sesama produsen untuk menggaet simpati konsumen. Tetapi sekarang bukan itu saja, karena juga harus memberi bukti tentang keunggulannya, yakni kualitas produk plus layanannya. Kalau enggak, ya lewatlah (kalah bersaing). Sebagai parameter dari keberhasilan mereka, tentu dari penjualan,” ujar Eko.

Keunggulan oli ECSTAR
Suzuki Motor yang sejak tahun 2006 lalu memiliki produk pelumas Suzuki Genuine Oli (SGO) dan saat ini telah berganti nama menjadi pelumas ECSTAR, sangat menyadari hal itu.

“Ecstar merupakan kreasi produsen pelumas di Indonesia, dengan standar kualitas yang sudah lulus uji dari tim Research & Development Suzuki. Selain itu telah lulus standar SNI. Sehingga kualitas oli ini sangat terjamin. Karean itu direkomendasikan oleh Suzuki sebagai pelumas yang paling cocok untuk mesin kendaraan Suzuki. Bahkan juga untuk kendaraan merek lain,” ujar Sparepart Dept. Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Christiana Yuwantie, belum lama ini.

Menurut Christiana, ECSTAR diformulasikan secara khusus untuk memberikan kinerja terbaik pada mesin agar mampu mengurangi gesekan antar komponen mesin. Selain itu juga berfungsi membersihkan mesin, serta mempertahankan stabilitas temperatur mesin kendaraan, walhasil menghasilkan efisiensi bahan bakar yang optimal.

Oli ECSTAR – dok.Istimewa

Tak hanya itu. ECSTAR juga berkembang di sirkuit balap MotoGP bersama tim Suzuki dan telah dikenal secara global. Dengan kata lain, kualitas pelumas ini juga diakui dan terbukti secara global, sehingga telah dengan mudah diterima oleh konsumen, khususnya di Tanah Air.

Hal itu, terbukti dari penjualannya yang terus mencuat. Christiana menyodorkan fakta data, produk ECSTAR untuk mobil yang diluncurkan Februari 2020, hingga Mei 2021 penjualannya telah mencapai hampir 10% dari total penjualan oli produksi.

“Tepatnya, sudah memberikan kontribusi 9,62% dari total penjualan Suzuki Genuine Oli sejak 2006 hingga 2021. Penjualannya didominasi oleh varian 0W-20 SN ukuran 1 liter, kemudian 10W-40 SL ukuran 1 liter, dan 5W-30 SL ukuran 1 liter,” ujar Christiana di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pembalap MotoGP Tim Suzuki Ecstar, Joan Mir juga menggunakan oli ECSTAR – dok.MotoGP

Singkat kata, di tengah persaingan yang semakin ketat, ternyata penjualan ECSTAR justeru mencuat. Fakta ini sekaligus membuktikan bahwa kualitas pelumas asli Suzuki ini telah diakui oleh masyarakat konsumen. (Fat/Jap/Aa)