Mobility

Pertamina Dituding Oplos BBM RON 88 Jadi Pertamax: Lemigas Lakukan Uji, Hasilnya Begini

×

Pertamina Dituding Oplos BBM RON 88 Jadi Pertamax: Lemigas Lakukan Uji, Hasilnya Begini

Share this article
Ilustrasi, pengisian BBM Pertamax ke tangki mobil - dok.istimewa via RRI.co.id

Jakarta, Mobilitas – Dugaan korupsi di Pertamina yang pemberitaannya terus bergulir di berbagai platform informasi di Tanah Air. Tudingan terjadinya pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM0 menjadi kasus yang dipermasalahkan secara hukum, karena hasil oplosan itu disebut dijual sebagai BBM RON 92 alias Pertamax.

Menanggapi hal itu, Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) angkat bicara setelah melakukan pengecekan kualitas BBM yang dimaksud melalui uji laboratorium. Hasilnya, kata Lemigas, seluruh sampel BBM jenis bensin yang diuji memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan pemerintah.

“Berdasarkan hasil uji laboratorium Lemigas, seluruh sampel yang diperiksa sesuai dengan standar kualitas yang dipersyaratkan (on spec),” papar Kepala Lemigas, Mustafid Gunawan dalam keterangan resmi, yang diterima Mobilitas di Jakarta, Jumat (28/2/2025).

Menurut Mustafid dalam proses pengujian mutu BBM tersebut, Lemigas melakukan pengambilan sampel dilakukan sesuai dengan metode ASTM D4057 (Standard Practice for Manual Sampling of Petroleum and Petroleum Products).

“Dengan metode pengujian tersebut, parameter utama seperti angka oktana (Research Octane Number atau RON), massa jenis, kadar sulfur, tekanan uap, serta distilasi menunjukkan kesesuaian dengan standar yang berlaku. Pengukuran nilai RON dari tiap sampel menunjukkan hasil yang stabil dan tidak menyimpang dari batas spesifikasi,” papar Mustafid.

Ilustrasi, pengisian BBM Pertalite ke sepeda motor di sebuah SPBU – dok.Pertamina

RON, lanjut Mustafid, merupakan indikator kemampuan bahan bakar dalam menahan knocking saat proses pembakaran di dalam mesin. Semakin tinggi angka RON, semakin baik ketahanan bahan bakar terhadap knocking, yang dapat meningkatkan efisiensi dan performa mesin.

“Dan yang perlu diketahui, pengujian RON ini menggunakan mesin CFR F-1 dengan metode ASTM D2699. Sehingga, tingkat akurasinya sangat tinggi,” tandas dia.

Namun pada sisi lain, Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, Abdul Qohar, tetap bersikukuh mengatakan Pertamina telh melakukan pengoplosan produk kilang pada jenis RON 88 dengan RON 92. “Ini dimaksudkan untuk menghasilkan BBM yang dijual dengan harga BBM RON 92,” kata dia di Jakarta, Kamis (27/2/2025).

Menanggapi silang sengkarut terkait pengoplosan BBM ini pengamat ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (1/3/2025) mengatakan pentingnya pengujian dan investigasi menyeluruh hingga beberapa tahun sebelumnya. “Sekarang yang perlu dilakukan itu investigasi oleh lembaga independen yang kredibel. Sehingga saling tuding, slaing bantah bisa dihentikan,” kata dia. (Jus/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id