Terungkap, Ini Alasan Pabrikan Jepang Enggan Cepat Bergeser ke Mobil Listrik

0
3956
Ilustrasi, Toyota Prius plug-in hybrid - dok.Electreck

Tokyo, Mobilitas – President Toyota Motor Corporation (Toyota) Akio Toyoda kembali membuat pernyataan yang mengkritisi roadmap yang ditetapkan pemerintah Jepang untuk memangkas emisi karbon mulai tahun 2030 dalam rangka menuju netral karbon pada tahun 2050.

Pria yang juga Ketua Asosiasi Industri Manufaktur Otomotif Jepang (JAMA) itu menyatakan, pergeseran spontan ke kendaraan listrik murni (BEV) merupakan ancaman bagi Jepang karena dapat melemahkan basis industri negeri itu. tak cuma produsen mobil yang babak belur, tetapi industri komponen pendukung juga ikut tergulung.

Seperti dilaporkan laman Automotive News, Japan Times, dan UK Today News, Senin (20/9/2021), pernyataan tersebut kembali dilontarkan cucu pendiri Toyota itu di hadapan wartawan di Tokyo, usai pertemuan rutin JAMA. Menurut dia Jepang merupakan negara yang bergantung pada ekspor, sehingga netralitas karbon akan memilikikonsekwensi terhadap masalah ketenagakerjaan di Jepang.

Akio Toyoda – dok.Automotive News Europe

“Beberapa politisi mengatakan bahwa kita perlu mengubah semua mobil menjadi EV atau industri manufaktur sudah ketinggalan zaman. Tapi menurut saya bukan itu masalahnya. Untuk melindungi pekerjaan dan kehidupan orang Jepang, saya pikir perlu untuk membawa masa depan kita sejalan dengan kondisi yang terjadi ada pada diri kita,” papar Toyoda.

Industri otomotif Jepang, kata Toyoda, memproduksi sekitar 10 juta kendaraan per tahun di dalam negeri. Dari jumlah itu sekitar setengahnya diekspor. Bahkan pada tahun 2030, lanjut dia, industri memproyeksikan bahwa pabrik dalam negeri masih akan membuat sekitar 8 juta kendaraan bermesin pembakaran internal per tahun, termasuk mobil hybrid dan plug-in hybrid.

Jika di tahun 2030 itu, pemerintah mewajibkan hanya mobil listrik (murni) saja yang boleh dijual di pasar Jepang, maka mau tak mau prpdusen mobil Negeri Matahari Terbit itu harus mengekspornya. Atau, berhenti total memproduksinya.

Ilustrasi, produksi Toyota Camry di Jepang – dok.Istimewa

“Ini berarti produksi lebih dari 8 juta unit kendaraan akan hilang, dan industri otomotif menghadapi risiko berupa memberhentikan 5,5 juta pekerjanya. Karenanya, jik mereka (politisi) mengatakan mesin pembakaran internal adalah musuh, maka kami tidak akan dapat memproduksi hampir semua kendaraan,” tandas Toyoda.

Pria yang juga penghobi balapan mobil ini berpendapat fleksibilitas dalam mengejar netralitas karbon harus dipikirkan. Menurut dia, jalur tersebut menuju netralitas karbon harus disesuaikan dengan kondisi spesifik di setiap negara termasuk Jepang.

“Dengan lebih banyak kebebasan, di mana teknologi digunakan untuk mencapainya, selama itu mengarah pada pengurangan emisi karbon secara keseluruhan,” ujarnya.

Ilustrasi, mobil listrik baterai atau listrik murni – dok.EV Resources

Mobil hybrid
Masih dalam pemaparannya itu, Toyoda kembali mengulangi penegasannya bahwa jalur menuju netral karbon harus disesuaikan dengan kondisi spesifik di setiap negara termasuk Jepang.

“Mencapai netralitas karbon, musuhnya adalah karbon dioksida. Bukan mesin pembakaran internal. Untuk mengurangi emisi karbon dioksida, diperlukan inisiatif praktis dan berkelanjutan yang sejalan dengan situasi yang berbeda di berbagai negara dan kawasan (termasuk Jepang),” ungkap Toyoda.

Dia menyatakan bahwa kendaraan hibrida masih memiliki kontribusi signifikan terhadap netralitas karbon, meskipun di kendaraan itu masih mengusung mesin pembakaran internal. Selain itu, harga mobil hybrid lebih terjangkau dibanding mobil listrik murni (BEV) sehingga dapat menembus pasar dunia, khususnya negara-negara di mana infrastruktur pengisian daya belum tersedia.

Ilustrasi, teknologi hybrid Toyota – dok.Istimewa

Terlebih, perbaikan teknis telah membuat mobil hybrid semakin bersih. Toyoda pun memberin ilustrasi kontribusi mobil hybrid terhadap pengurangan tingkat emisi. Dari 18,1 juta kendaraan hybrid yang telah terjual secara kumulatif telah mengurangi jumlah emisi karbon dioksida setara dengan 5,5 juta mobil listrik baterai atau listrik murni.

“Selain itu dari sudut pandang ekonomi, menggunakan teknologi hybrid sebagai teknologi jembatan menuju mobil listrik murni dan nol emisi dapat membantu mengurangi pukulan terhadap industri yang membuat suku cadang untuk mesin dan transmisi,” sebut Toyoda.

Dengan kata lain, juragan Toyota Motor ini ingin menyampaikan jika langsung lompat ke mobil listrik, maka tak cuma produsen mobil yang babak belur. Tetapi,  industri komponen pendukung pun juga ikut tergulung.(Din/Soy/Aa)